Rasa
Hei, bagaimana kabarmu? Seseorang yang pernah singgah namun tak sebenar-benarnya singgah. Hanya sekedar melepas rasa dan lekas pergi entah kemana, meninggalkan rasa yang kini berangsur sirna. Kepadamu di masalalu aku pernah menaruh harap yang kini juga terlelap.
Rasa ini terkadang bangun, hanya untuk mengingat atas rasa bersalah bahwa sang teruna salah menaruh kisah diantara kita. Kau yang kukira ada selamanya ternyata hanya ada sementara. Tak abadi namun kisah takkan pernah mati. Aku membencimu bukan sekedar benci lalu benar-benar menghapus keberadaanmu di hati.
Keberadaan memang masih ada, namun kututupi. Kutimbun dengan lara yang pernah kurasa, kutimbun dengan harap yang kalap, kutimbun atas perasaan yang gelap.
Teruna meleburkan rasa nan karsa terhadapmu. Teruna tak ingin kembali mu, tak ingin menatap mata yang kini telah sukar untuk hanya sekedar ku tatap. Melihatmu dari jauh pun terkadang teruna berpikir berkali-kali agar rasa yang telah mati tak hidup kembali.
Memang setiap orang ada masanya dan di setiap masa ada orangnya. Namun di masa yang akan mendatang Teruna berharap bahwa ia tak menemukanmu di setiap sosok yang ia temui. Sebab rasa lara yang menjelma trauma, akan tetap hidup untuk waktu yang lama.
Teruna, di baris rasa.