Yang Pernah Ku Sebut Rumah

Heii, kenapa jika kau masih saja berkutat dengan masalalu mu, lantas kenapa kau menebarkan benih harap yang begitu hebat? Apa sebab kau ingin menghilangkan dan melenyapkan masa lalumu dengan orang baru? Apa kau tau bagaimana perasaan seseorang yang kau tebarkan benih harap palsumu itu? 


Kenapa kau semena-mena dalam menaruh perasaan yang masih ada seseorang di dalamnya? Kenapa kau lekas membuka perasaan jika saja kau belum usai dengan masalalu mu? 


Kau tau? Kau menaruh harap kepada sang teruna yang jelas-jelas tak pernah bermain hati? Kau seolah-olah membuka hati yang sebenarnya masih terisi.


Apa semua ini salahku? Apa sebenar-benarnya ini semua adalah salahmu?


Kau yang kukira berbeda namun pada akhirnya sama saja, malahan lebih dari yang kukira. Kau yang kusangka baik namun mencabik-cabik.


Dari sekian maaf yang kau ucap, aku memilih tak berucap. Dari sekian tulusku untukmu berakhir menjadi aku menghunus harapku.


Kepastianmu kala itu, adalah omong kosong kala ini.


Kau benar-benar hebat dalam menyayat rasa, lebih hebat dari sayatnya sira.

Postingan Populer