Bait Bungkam
Pada titik didih aku menanam benih.
Ada rasa penuh makna yang tumbuh, menginjaki luka-luka yang masih melepuh. Kutegaskan kembali aku mudah runtuh oleh sebab itu hindari titik jenuh itu. Namun jika saja rasa nyamanmu bukan aku, aku rela akan tiadamu. Seiring langkah demi langkah aku lekat akan hadirmu yang memikat erat. Aku memberi harap untukmu, namun jika saja harapmu bukan untukku aku rela akan kepergianmu.
Jatuh cinta kepadamu adalah kebahagiaan yang tak direncanakan sekaligus rasa yang tak mampu tuk diungkapkan. Namun terkadang kalut melanda, sebab hadirmu juga membawa lara. Lara yang mungkin hanya aku yang merasa, lara yang mungkin hanya aku yang mengada. Lara akan ketakutan kehilangan puan yang mampu menghidupkan atma yang telah lama binasa.
Mungkin aku terkadang mudah untuk cemburu namun enggan untuk mengadu, memangnya aku siapamu. Kau mungkin akan keberatan atas perkataanku namun nyatanya begitu. Jika kau bertanya tentang apa arti dari semua harap yang kudekap, aku hanya bisa terlelap nan lenyap.
Aku mencintaimu namun takut akan kebinasaanmu, sebab binasanya Sira sudah membuatku layu akan karsa yang menggebu-gebu. Aku tak ingin harapmu untukku sirna hanya karena lara yang kau cerna.
-Notesgila, bait bungkam.