Rasa yang Meluap Luap
Haii perempuan yang sedang kasmaran, apakah benar jika cinta dari kedua manusia yang tadinya menginginkan seseorang untuk menjadi tulang rusuknya masing-masing namun harus pupus karena keadaan yang menggerus. Aku teruna yang tadinya menginginkan sira namun aku beranjak dan mengikis rasa nan karsa yang tadinya kuperjuangkan demi harsa yang begitu nyata. Berdua denganmu pasti lebih baik sebab cinta dari takdir-Nya datang tak terduga, namun sekarang aku memilihmu, menjadi bagian dari tulang rusukku.
Sekarang kau menjadi sampul kehidupan dan berlanjut ke isi kebahagiaan, dari insan yang berduka aku menghanyutkan rasa yang tadinya mengakar pedih. Aku tak ingin serpihan yang dulu kuperjuangan menggores kisah diantara kita sebab cukup sekali saja cinta yang lara hadir dikehidupanku. Sebelumnya aku hanya ingin menjelaskan, aku mencintaimu dengan versiku sendiri memang berbeda, namun rasa cinta ini memang benar adanya.
Aku berkelana dengan rasa kecewa namun pupus saat aku bertemu sang pemberi harsa, pada semesta yang berbahagia aku meminta lara untuk menggapai harsa pada bait yang nyata. Sira, terbenam sudah rasaku dan terbitlah rasa baru yang bisa menggantikanmu, rasa cinta kepadamu tutup usia sebab hadirmu hanya menjadi lara yang membara. Aku jatuh cinta kepada ia pemilik bulan sabit dalam tawanya, pemilik mata seteduh langit dan setenang samudra, haii perempuan yang sedang dalam pelukan, aku mencintaimu.
Sebelumnya selami aku lebih dalam, dengan begitu seandainya kau ingin menjauh aku masih ada batas untuk terpejam redam. Namun mungkin kegilaan ini akan pupus hangus dalam sekejap lelap. Sebab rasa ini memang benar-benar rapuh tak seperti rasa dimana aku memang benar-benar kuat. Namun aku masih menggenggam karsa untuk mencintaimu dengan seluruh jiwaku, aku membuka lebar rasa yang selama ini ku tutup rapat hanya teruntuk puan yang mengikat.
Berkelana dengan sang pemberi harsa tepat pada hari kelahirannya.
Tertanda, Notesgila.