Takdir Digaris Akhir

Pada Syair Yang Mengalir Aku Memilih Takdir

Dalam gelap aku berucap bahwa ia sang pemberi luka telah sirna, ia sang pemberi duka telah binasa namun mengapa masih saja aku labil dalam perasa. Sesosok puan itu datang pada saat aku terpuruk, apakah dia datang menjadi sang penenang atau hanya datang lalu terkenang. Aku masih saja sulit untuk menerima keadaan namun aku mampu tuk bertahan. Pada gundah yang tak bisa dihiraukan berikan pasrah untuk aku yang lelah. Mungkin aku tak bisa dalam menyerukan perasaan namun aku bisa dalam perumpamaan. Rasa nan karsa yang kumiliki, sekarang hanya diambang ketidakpastian sebab tiada insan tuk puisikan, aku takut pada bait maut yang bisa hilang namun muncul disaat gersang. 

Teruna telah membinasakan Sira dalam kegelapan, ia tak menunjukkannya sebab tak patut diperlihatkan. Aku tak menangis meskipun kisah usang ini begitu tragis. Rasa cinta yang hidup begitu lama yang tadinya diharap untuk tidak lelap namun harus lenyap karena keadaan yang begitu kalap. Sira, lara yang kau sayatkan pada sukma akan sulit untuk sembuh namun rasa yang tumbuh mampu menutup kambuh.

Teruntuk puan yang akan menjadi bait nyawa, bisakah berikan rasa yang begitu sempurna?


-Notesgila, 2023 Des.

Postingan Populer