Nyuara Karsa
Sira Pembuat Lara
Tokoh yang membungkam lara dengan karsa nyata, hei Sira kepergianmu adalah sepenggal kisah yang membunuh angan dengan nada lirih namun pedih. Akan tiba saatnya dimana waktu akan memberi tahu bahwa sosok sepertimu hanya satu tak lebih dan tak kurang.
Tak luput ada kata runtut diujung temu yang tertuntut. Dia adalah puan yang diidamkan oleh tuan-tuan yang berkarya, namun apa aku hanyalah penikmat karya tak lebih dari mata dan kata lara. Namun aku akan terus mengagumimu dengan rasa cinta dan kasih seluas samudera yang biru, kehidupan ini memang semu namun kita berada di waktu yang tentu. Mengharapkanmu kembali hanya omong kosong belaka sebab rasamu terbenam dimasa yang semu.tersekian kalinya aku mengucapkan nyuara "aku mengagumimu".
Berawal dari pertemuan yang tak terpikirkan berakhir menjadi kebinasaan.
Tokoh yang membungkam kasih dan cinta dengan karsa yang nyata, menyayat pedih sukma yang tadinya bahagia. Teruna yang tak tertolong tenggelam bersama duka penuh derita. Kehidupan semesta yang semu dengan angan manusia yang ingin ditakdirkan untuk bersama, bergandeng erat dengan tangan satu sama lain menikmati masa-masa semu yang tak ada syarat untuk mencela. Sira aku ingin memilikimu namun aku sadar bahwa tuhan telah memilih untuk menukar jiwamu dengan puan yang ditakdirkan untukku. Aku tak berani mencela namun meminta dengan nada lirih untuk menukar jiwa puan yang digariskan untuku ditukar dengan jiwa sira yang teramat istimewa. Mungkin aku pernah hilang akal hingga lupa untuk tawakal. Tuhan memang tau yang terbaik untuk teruna yang diambang lara namun teruna inginkan sira yang istimewa sebab hadirnya sira pembawa kebahagiaan tak lebih dari tuhan sang pemberi kehidupan.
Mantra yang tak sengaja terucap menumbuhkan benih cinta tanpa mahkota, sebab ia lupa bahwa tahta yang dimilikinya hanya titipan tuhan sang pencipta. Dimana saat kau ragu disitulah jiwamu mengerutu meminta arah langkah yang dituju, memilih berjuang dan menerima rasa sakit atau binasa dengan rasa kagum yang abadi.
Sira mungkin semua manusia didunia ini tak mengenal sosokmu namun mengenal akan kisahmu yang merenggut sukmaku, menusuk nadiku dan menabur bunga yang layu.
Tokoh yang membungkam kasih dan cinta dengan karsa yang nyata, menyayat pedih sukma yang tadinya bahagia. Teruna yang tak tertolong tenggelam bersama duka penuh derita. Kehidupan semesta yang semu dengan angan manusia yang ingin ditakdirkan untuk bersama, bergandeng erat dengan tangan satu sama lain menikmati masa-masa semu yang tak ada syarat untuk mencela. Sira aku ingin memilikimu namun aku sadar bahwa tuhan telah memilih untuk menukar jiwamu dengan puan yang ditakdirkan untukku. Aku tak berani mencela namun meminta dengan nada lirih untuk menukar jiwa puan yang digariskan untuku ditukar dengan jiwa sira yang teramat istimewa. Mungkin aku pernah hilang akal hingga lupa untuk tawakal. Tuhan memang tau yang terbaik untuk teruna yang diambang lara namun teruna inginkan sira yang istimewa sebab hadirnya sira pembawa kebahagiaan tak lebih dari tuhan sang pemberi kehidupan.
Mantra yang tak sengaja terucap menumbuhkan benih cinta tanpa mahkota, sebab ia lupa bahwa tahta yang dimilikinya hanya titipan tuhan sang pencipta. Dimana saat kau ragu disitulah jiwamu mengerutu meminta arah langkah yang dituju, memilih berjuang dan menerima rasa sakit atau binasa dengan rasa kagum yang abadi.
Sira mungkin semua manusia didunia ini tak mengenal sosokmu namun mengenal akan kisahmu yang merenggut sukmaku, menusuk nadiku dan menabur bunga yang layu.
Chapter 4 - Teruna Bernyuara
Agustus hanya perilhal tulus yang putus,
namun agustus hadir bersama secercah harap yang akan lenyap. Penghormatan dengan akhir pengkhianatan. Ini semua mungkin menjadi awal yang baru tanpa hadirnya puan yang menjadi angan, tahun ini masa demi masa sudah kulewati menitih harap yang lenyap. Memuat bualan kalap yang hampir terlelap.
Sira, harapanku kau tumbuh dengan utuh tak tersentuh dan tangisan-tangisanmu kian luluh. Bayang-bayang Tuhan sang pencipta alam menghadirkan raja tanpa ada puan yang membersamainya. Tahtanya dirampas sisi gelap yang ganas beringas. Agustus tuntas tanpa setetes darah putih. Teruna dari rahim bunda menyuarakan "kita mungkin hanya sama dalam keistimewaan namun berbeda dalam kepastian".
namun agustus hadir bersama secercah harap yang akan lenyap. Penghormatan dengan akhir pengkhianatan. Ini semua mungkin menjadi awal yang baru tanpa hadirnya puan yang menjadi angan, tahun ini masa demi masa sudah kulewati menitih harap yang lenyap. Memuat bualan kalap yang hampir terlelap.
Sira, harapanku kau tumbuh dengan utuh tak tersentuh dan tangisan-tangisanmu kian luluh. Bayang-bayang Tuhan sang pencipta alam menghadirkan raja tanpa ada puan yang membersamainya. Tahtanya dirampas sisi gelap yang ganas beringas. Agustus tuntas tanpa setetes darah putih. Teruna dari rahim bunda menyuarakan "kita mungkin hanya sama dalam keistimewaan namun berbeda dalam kepastian".