Berfalsafah
Tenggelam sudah rasamu dan terbitlah rasa baru yang bisa menggantikanku, mungkin mentari mengacuhkan angan yang terlangitkan sebab masih banyak angan yang diistimewakan.
Aku merangkak menghampiri sukma
Tak tertatih sebab terlalu banyak tangan
Aku termangu melihat bunga yang layu
Terbias arus masa yang berkelanjutan
Aku berdansa dengan asa tak bernyawa
Menari-nari dengan langkah tak pasti
Kecup pedih didahi imaji
Sa, pergimu adalah diksi-diksi yang mati
Tatapan yang hampa tertuju kepada teruna
Aku memuja-Nya menetes pedih penuh dosa
Mengharap memutar masa yang purba
Namun apalah daya kau hanya insan-Nya.