Lara Lirih

Berawal dari takdir yang mangalir begitu cepat namun meninggalkan goresan lara yang hebat.

Mungkin takdirnya sangat menyayat namun aku adalah insan yang taat, tak berani untuk mencela namun berani untuk meminta. Meminta untuk tidak menghabisi setiap bait kosakata yang indah nan penuh makna.

Sira sang pembuat lara tak henti-henti menghampiri sukma tuk katakan "Aku pergi". Entah, rasa ini seperti tersayat-sayat larik kata yang tak bermahkota namun mempunyai daya. Lihatlah goresan yang kau perbuat memutuskan angan yang tadinya bergandengan selayaknya raja nan ratu yang hidup tanpa takut akan redup. Sira aku membencimu namun rasa ini nyatanya bisa mengelabuiku rasa ini masih menyimpan angan yang bersajak. Mungkin kata yang tercipta hanya bualan semata namun untuk merangkainya membutuhkan bara api yang panas sebab dinginnya angan yang mengganas.

Di waktu yang lain aku tak sengaja melihatmu terjatuh, namun aku sulit untuk beranjak dari duka yang tercipta sebab masih banyak rasa yang belum dicerna. Mungkin saja jika aku membantu dan mengulurkan tangan kau menepisnya sebab ikatan kita sudah tiada, sirna. Namun nyatanya kau masih bisa bangkit dan kembali seperti sediakala.

Postingan Populer