Sira, Aku Menjenguk Luka
Aku menjenguk luka, harap-harap yang sempat kupanjatkan kepada Sang Pemberi Nyawa.
Kepadamu aku pernah menaruh kisah. Kisah pertama dalam barisan rasa, yang tak sempat kau semai menjadi bunga cinta yang nyata. Sajak pertama yang mengisi tulisanku adalah namamu. Diksi yang menari-nari, selalu saja tentangmu. Seseorang yang pernah kudamba sedemikian rupa, paling lama kudekap cintanya.
Apa sampai detik ini kau masih tak tau bahwa Sira adalah nama milikmu?
Nama yang kuramu untuk menulismu. Menyapamu tak lebih dari mengenangmu.
Maaf, jika pada akhirnya aku masih saja menyimpanmu, ke dalam barisan rasa yang kubungkus dengan sisa-sisa pengharapan, keraguan, ketidakberanian dan perasaan yang tak pernah benar-benar tersampaikan.
Kelak jika kau menemukan nama Sira di sela-sela kalimat ku, mengertilah bahwa perasaanku pernah benar-benar ingin disemai olehmu.
Kepadamu yang sempat ingin kumiliki seutuhnya pun separuhnya, jika bisa.
Terima kasih telah ada, telah lahir ke semesta. Menjadikan aku sebagai sosok Sang Teruna.
Dariku Sang Teruna | Gunungkidul, 11 Agustus 2026.