Pelupuk Mata
Tangis yang kau tahan sejak subuh tadi, akan segera jatuh petang nanti. Kau terlalu banyak memendam, terlalu banyak meredam sesak diujung mata. Mendesak raut muka agar senantiasa bahagia. Padahal sejatinya kau layu, rautmu lelah menyimpan segala resah. Kau paksa setiap mentari bangkit dari tidurnya sampai jingga merenggut hangatnya. Kau tak jadi dirimu sendiri dari fajar menampakkan diri sampai tenggelam menjadi malam.
Ketika semesta mulai meredup, langit mulai melahirkan bintik-bintik bersinar dan tubuhmu mulai pasrah dijemput gundah yang menyamar lelah. Pikiranmu mulai pecah pun tangis ikut memecah. Heningnya malam tak lagi kau gubris sebagai kesepian, heningnya malam menjadi tempatmu untuk menjadi dirimu sendiri, bertegur sapa dengan perasaan yang selalu kau ingkari. Meluapkan, segala keresahan hati.
Dariku, Sang Teruna | Gunungkidul, 09 Agustus 2026.